• 28th September
    2014
  • 28
  • 23rd September
    2014
  • 23

Apa Kabar, Om Ugo?

Pernah mempunyai seseorang yang tidak memiliki hubungan darah tetapi sangat dekat dengan elo, bahkan melebihi saudara sedarah elo sendiri? Gue punya. Om Yugo namanya, atau gue biasanya memanggilnya Om Ugo.

Om Ugo adalah teman terdekat keluarga nyokap gue. Beliau adalah sosok yang supel, seru, sedikit nakal dan urakan, tetapi sangatlah loyal terhadap temannya dan sayang keluarga.

Rumah Om Ugo dekat dengan rumah nenek gue. Mungkin itulah kenapa akhirnya Om Ugo menjadi teman baik -teman terbaik- keluarga kami, termasuk gue dan adik gue.

Om Ugo selalu memanggil gue dengan sebutan “De” dan gue bisa merasakan bahwa dia sangat sayang sama gue walaupun gue bukan keponakan kandungnya.

Dari kecil gue emang bisa dibilang dekat banget dengan Om Ugo. Saat keluarga nyokap sedang berkumpul, gue memilih dipangku Om Ugo ketimbang Om dan Tante gue lainnya.

Apa-apa Om Ugo. Dari mulai nganter jemput gue sekolah saat nyokap gue lagi sibuk ngurus ini-itu ketika nenek gue meninggal, sampai nganterin gue ke Planetarium, walaupun di Planetarium Om Ugo malah tidur. Om Ugo juga rela bolak balik nganter jemput Cimanggis - Rawasari saat gue ingin main ke rumah nenek.

Om Ugo emang urakan, terkesan tidak peduli dengan masa depan, tapi semua orang sayang Om Ugo karena keramahannya. Om Ugo juga sosok yang setia, pacarnya nggak pernah ganti. Beliau tetap serius sama pacarnya walaupun saat itu hubungan mereka sempat tidak direstui oleh orang tua si pacar.

Tapi sekitar tahun 2005, hubungan mereka mulai direstui. Mungkin karena saat itu Om Ugo mulai terlihat serius dalam bekerja, juga terlihat jauh lebih dewasa. Kami semua tentu aja senang. Akhirnya ya Om Ugo. :D

Saat itu gue sudah kelas 2 SMA. Semakin jarang ketemu Om Ugo karena gue pun sudah jarang ke rumah nenek, begitu pun Om Ugo yang sudah jarang ke rumah gue karena bekerja.

Gue yang masih ABG pada saat itu lagi heboh-hebohnya sama kehidupan SMA, sampai sedikit lupa sama keluarga di Rawasari. Sampai tiba-tiba, saat gue sedang numpang baca si Gramedia pas bulan puasa di tahun 2005, adik gue nelepon.

Dia bilang Om Ugo meninggal. Kecelakaan di tempat kerja katanya.

Saat itu gue gak bisa ngomong apa-apa. Sedih? Nggak usah ditanya. Gue seperti ditampar bolak-balik. Seperti dipukul berkali-kali. Ternyata seperti ini rasanya kehilangan orang yang kita cintai… untuk selamanya.

Gue pun langsung buru-buru pulang ke rumah. Di angkot gue nangis dan sebisa mungkin menyembunyikannya dari para penumpang angkot. Gue mengingat terakhit kali bertemu dengan Om Ugo. Sudah beberapa bulan yang lalu, di tempat jus. Saat itu Om Ugo nanya, “Kapan datengnya De?”. Pembicaraannya berlangsung sangat singkat.

Dan ketika itu gue sangat menyesal karena jarang main ke rumah nenek.

Sesampainya di rumah nenek, Tante-tante gue mengajak gue ke rumah Om Ugo. Di sekitar rumah Om Ugo terlihat banyak sekali orang yang ngelayat. Banyak yang terlihat menangis. Bukti kalau Om Ugo disayangi para tetangga. Mereka bilang gak akan ada lagi orang ‘gila’ yang teriak “Woy orang kampuuuung” pagi-pagi buta. Mereka bilang mereka kangen dengan teriakan itu, dengan keusilan dan keseruan Om Ugo.

Gue juga melihat pacar Om Ugo yang menangis sesenggukan di samping jenazah Om Ugo. Ternyata Allah lebih sayang Om Ugo. Ketika hubungan mereka sudah direstui, ketika Om Ugo sudah memiliki pekerjaan, Allah justru membawa Om Ugo ke sisi-Nya. Mungkin ini yang namanya tidak jodoh.

Gue dan adik gue pun masuk ke ruangan tempat Om Ugo tidur. Setelah membaca Al-Fatihah, tante gue mengajak gue dan adik gue pulang. Mereka pulang, tapi gue tidak. Gue bersembunyi di balik tembok, mengintip Om Ugo dari jauh sambil menangisi kepergiannya. Ah, Om… Nona belum sempat cerita masa-masa SMA.

Esok harinya, Om Ugo dimakamkan. Gue takjub melihat banyaknya orang yang ingin ikut memakamkan dan mengirimkan doa kepadanya. Hampir semua orang di sana menangis.

Itu kejadian sekitar sembilan tahun yang lalu, tapi kenapa gue tiba-tiba menulis tentang Om Ugo? Karena pagi ini gue merasakan kangen yang teramat sangat sama Om Ugo.

Gue selalu membayangkan senangnya jika Om Ugo ada dan mendengarkan cerita gue tentang hari pertama masuk kuliah atau hari pertama gue bekerja. Jika Om Ugo masih ada, mungkin saat ini beliau sudah memiliki anak dan gue bisa membalas kebaikan dia melalui anaknya.

Tapi Allah memang berkehendak lain. Om Ugo jauuuh lebih bahagia di tempatnya yang sekarang.

"Halo, Om Ugo. Apa kabar? Nona kangen." :)

  • 20th September
    2014
  • 20

Gila!

Mengapa? Tanyamu. Saya diam sebentar, lalu tertawa.

Ya, saya cukup gila. Tapi kegilaan saya yang membuat kamu tetap berada di dekat saya hingga selama ini. Saya gila dan kamu tahu itu.

Kamu pun cukup gila untuk menanyakan mengapa. Mengapa kamu bertanya ‘mengapa’ padahal kamu tahu saya mengapa.

Gila.

Kita memang pasangan gila.

Tapi tidak saling melengkapi jika gila sama gila bertemu. Gila dan waras, baru pas.

Kamu sudah tahu mengapa tetapi tetap bertanya mengapa. Itu alasannya. Kita sama-sama gila. Tidak bisa bersama.


Saya selalu menginginkan hidup yang seimbang. Kamu tahu mengapa.

Jadi menjelajahlah. Jangan tanya lagi mengapa.

  • 15th September
    2014
  • 15

Unusual Curhat Session with My Very Best Friend

Last night I had a-deep-but-not-too-deep conversation with my best friend since high school. I knew that he’s surprised when I suddenly told him about -well, let’s say- my ‘interesting’ secret story. I also told him my biggest worry in life. Then he asked why I never told ‘this story’ to him and I just laughed. I never thought I could share my deepest feeling to someone. But last night… I did it.

Sharing your problem surprisingly can make you feel relief. It feels like finally my world can rotate freely without any obstacle. I can breathe easy. Because finally I can let these-complicated-thoughts out.

So here is my suggestion for you: tell your problem to your closest ones. Don’t keep it alone. Never.

You know, I’m not that religious person but I always believe that God will never test us beyond our ability. I completely believe it.

If you get a problem, just face it, and endure it. And don’t forget to smile, no matter how hard your life is or how heavy your problems are. It’s really a waste to fill your life with complaining.


What doesn’t kill you makes you stronger, right?

  • 3rd September
    2014
  • 03

Morning Message

Hey,

You have to know that you are more than ordinary. So, let him go. Let him -who treats you like you’re ordinary- step away from your life. You deserve someone better. Because you’re special. Too special for someone like him.

One day… you’ll meet him - the one you always dream for, the one who really really cares about you, the one who treats you like you are his whole world.

So, let’s move on. And live your life.


Cheers,
Your closest friend… ever.

  • 9th July
    2014
  • 09
  • 22nd June
    2014
  • 22